Senin, 28 Maret 2011

Ombak dan Samudra

Cerita Bersambung Bagian. ke-1

1. KENANGAN YANG MEMUKAU
Bali,
Nyoman Bagus, terpaku memandang sebuah foto yang tercantum disebuah jejaring sosial Dimana dia juga terdaftar sebagai anggotanya. Hatinya berdesir, dan jantung pun berdegup lebih kencang  dari biasanya, ya, wajah itu begitu akrab di benaknya. Wajah yang selama ini selalu menghiasi tidurnya.
“Bli Bagus, saya pulang duluan ya” Wayan Oka, salah satu staf di  BE Event Organizer pamitan,
“ Wow! amazing! bagaimana dia bisa begitu mirip dengan Ayu Tirta Bli? matanya menatap terpana ke arah foto.
Nyoman Bagus menghela nafas panjang, “ yaah, mirip sekali, hanya bedanya dia pake jilbab” katanya, wajahnya mendekat ke layar laptop di depannya. dihembuskan  nafasnya dan buru-buru diambilnya botol air mineral yang isinya tinggal setengah itu, lalu meminumnya dengan terburu-buru. Dan dia tersedak.
“Bli harus add dia jadi temanmu, lihat dia begitu simply elegant and gorgeous, betul betul Sober personality” Berondong Wayan Oka bersemangat. Matanya berbinar-binar.
Ada yang seberkas rasa ngilu berdenyut di dalam hati. Nyoman Bagus ,teringat Gusti Ayu Putu Tirtasari, Istrinya yang telah meninggal 19 tahun lalu. Karena kanker rahim yang dideritanya.
“Akh andai saat itu aku punya uang sebanyak sekarang, tentu sudah kubawa berobat  ke luar negeri... tentu sekarang masih mendampingiku membesarkan putera kita satu-satunya. Maafkan aku Isteriku, aku tak bisa memberimu yang terbaik” rintih batinnya, ditatapnya foto  yang tergantung di depan meja kerjanya. Senyumnya begitu lembut dan tatapannya begitu sejuk seperti ada telaga yang dalam di matanya. Mata yang sangat dikaguminya. Dia begitu   sederhana, begitu cantik, dan begitu indah, sungguh kepribadian yang teduh menenangkan
Dialihkannya pandangan ke arah foto di layar, ya sorot mata dan senyumnya begitu mirip dengan isteri yang sangat dicintainya. Mata yang mengundang siapa pun yang memandangnya untuk berenang di telaga yang dalam dan menyejukkan. Dengan  jilbab menutupi rapat rambutnya, dia begitu anggun, begitu indah.
Nyoman Bagus, memencet tombol “Add as Friend”  meskipun dia tak tahu , kapan dia akan mendapat konfirm atas pemintaan teman yang dilayangkannya. 
Toolbar laptop  berkedip dan di page email ada email masuk. Ternyata  email dari salah seorang custumer. dibuka dan dibacanya email itu. Permintaan penyelenggaraan wedding night. Ditulisnya balasan menyatakan kesiapannya untuk menyelenggarakan event  tersebut. Memang di desanya, Bedugul, sering digelar event pernikahan orang bule yang ingin diselenggarakan dengan adat Bali. Tempatnya menggunakan balai - balai style Bali yang ada di Pura keluarga besarnya,  Catering di handle oleh adik iparnya. Pendukung acara menggunakan tenaga lokal, orang-orang di desanya, sehingga mereka bisa juga merasakan uang dari pariwisata. Meja kursi, peralatan catering dan sebagian lampu-lampu, menggunakan milik perusahaan BE Event Organizer. Sementara mesin diesel, disewa dari suplier langganannya. Hampir  semuanya memanfaatkan yang ada di desanya. Pengantin dirias dengan pakaian adat Bali, karena memang sengaja dibuat bernuansakan khas adat istiadat Bali. Kadang-kadang diselenggarakan di rumah yang bentuknya rumah khas Bali, yang terdiri dari beberapa bangunan dalam satu pekarangan, orang bule menyebutnya “house in the house”.  Nyoman Bagus, kembali menatap foto di layar laptopnya. Kata -kata  yang diucapkan Wayan Oka, seakan tak mau hilang dari benaknya. “simply elegant and gorgeous betul-betul sober personality”. Ada keharuan yang tiba-tiba menyeruak tanpa kuasa ditolak.Tiba-tiba wajah  istrinya melintas.
Nyoman Bagus, teringat hari terakhir mereka bersama, sebelum  akhirnya Ayu Tirta  pergi untuk selamanya,meninggalkan dirinya dan Bonny kecil usia dua tahun yang sedang lucu-lucunya, yang celotehan dan tingkahnya selalu membuat keduanya tergelak. Meninggalkan segala kenangan indah yang mereka reguk dalam usia perkawinannya yang singkat. Kebersamaan  yang dinikmati dalam hening, selain suara gemerisik alat yang selang-selangnya menjerat, saat Ayu Tirta meregang  kesakitan pada suatu malam di rumah sakit daerah yang sangat sederhana. Kesedihan yang mereka berdua simpan dan tak tuntas terungkapkan.
Nyoman Bagus mengkhayalkan bisa kembali ke saat itu.  Ingatan akan  Ayu Tirta, langit senja, dan wajah di layar laptop berbaur. Semuanya lebur dan tampak kabur dari mata  tiba-tiba basah oleh air mata.


Bandung
Suasana riuh rendah di sekolah saat istirahat ke satu, anak-anak berkejaran di lapangan, sebagian bergerombol di bangku di bawah pohon di halaman dalam sekolah.
Astuti keluar dari ruang kerjanya, Ruang Bimbingan dan Konseling,  menuju ke ruang guru.
“Selamat pagi, Bu” seorang siswa yang berpapasan dengannya mengucapkan salam.
 Astuti tersenyum seraya menjawab, ” Pagi sayang, Nina cantik banget kamu”.  Pujinya  tulus sambil ditepuk-tepuknya bahu Nina. Astuti berjalan ke ruang guru, senyumnya mengembang pada anak-anak berpapasan dengannya di sepanjang koridor.
“ Tuh geuning1  Bu Astuti, “ Bu Rury yang sedang duduk  tangannya menenteng buku absensi langsung menyambutnya begitu Astuti masuk.
“ Ada apa Bu Rury?”, Astuti mendekati bu Rury lalu duduk dikursi bersebelahan dengan Bu Rury.
“Tingali geurasi Fauzan dah bolos lagi di pelajaran saya, minggu kamari3 nggak masuk, sekarang nggak masuk lagi, di pelajaran saya aja dah empat kali dia alpa.” Tangannya sibuk menunjukkan hari-hari dimana Fauzan bolos.
Diraihnya buku absen dari tangan bu Rury lalu ditelaahnya, Astuti membuka dompet lebar dikeluarkannya bloknote mini dan balpen, lalu mencatat tanggal-tanggal  dimana Fauzan bolos
“ Ya nanti saya tindak lanjuti, nuhun nya 4 Bu”  ditutupnya bloknote itu dan dimasukkan kembali ke dalam dompet lebarnya.
“ Bu Astuti, ada siapa saja di ruang BK5?” Pak Syarif,  wakil kepala sekolah yang menjulurkan kepalanya dari pintu
“ Lengkap Pak, Bu Rina, Bu Sita, Bu Eni, Bu Ima, Pak Dude  juga ada” sahut Astuti, “ada yang perlu dibantu?” sambungnya sambil berdiri dan berjalan menghampiri Pak Syarif
“ Kita mau mengadakan meeting untuk Kegiatan Pesantren Ramadhan”   Pak Syarif memperlihatkan draft proposal untuk kegiatan tahunan setiap bulan Ramadan.
“Mangga, bade nganggo ruang BKPak ? Astuti menawarkan
“Muhun, ambeh laluasa sareng sareungit 7 “ keduanya tersenyum.
“ Akan saya siapkan” Astuti bergegas kembali ke ruang BK
“ Bu Astuti, saya mau home visit ke rumahnya Bayu dulu ya” Bu Rina yang berpapasan di koridor langsung pamitan.
“ OK,” jawabnya singkat, dipercepatnya langkahnya ke ruang BK.
“Bu Sita, kata Pak Syarif kita akan meeting siang ini untuk membahas kegiatan pesantren Ramadan”.  Bu Sita yang tengah mengisi kartu pribadi siswa mengangkat wajahnya.
“Pesantren Ramadan ya, rasanya baru kemarin kita mengadakan pesantren Ramadan, tahu-tahu sudah setahun terlewati. Oh ya tadi Bu Ima pamit pulang duluan, mau Therapy katanya”. Bu Sita menyahut. Astuti menganggukkan kepalanya, sambil menyalakan komputer.
Astuti membuka emailnya, ada lima email masuk semua dari jejaring sosial yang baru sebulan ini diikutinya. Richard dari Kanada, Patrick dari United Kingdom, Badr dan Dr.Khaleed dari Karachi, Pakistan. Semuanya adalah reply dari reply yang telah dikirimkan Astuti atas permintaan pertemanan yang mereka kirimkan. Satu email lagi dari Bagus Eddy. Astuti membukanya, “Hai saya Bagus Eddy, Asli dari Bali “ 
“ini orang minta kenalan tapi nggak memperlihatkan diri, tak ada foto barang secuilpun”. Rutuknya dalam hati. Ada keinginan untuk me-rejectnya, tetapi rasa penasaran membuat dia menerima dan mengirim email balik.
 “ Bu Astuti, kita jadi meeting, di sini saja” Bu Yosi tiba-tiba masuk. Astuti mematikan komputer, dan bergabung dengan  guru-guru calon pengisi pesantren Ramadan.



                              Bersambung................

Kosa kata :

1. itu dia
2. lihat nih
3. kemarin
4. Terima kasih ya
5. Ruang Bimbingan dan Konseling
6. Silakan, akan menggunakan Ruang BK
7.  Iya, biar leluasa dan wangi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar